Yunus dan Seni
Yunus, itulah panggilan pemuda kelahiran 17 Januari
1996. Nama lengkapnya adalah Yunus Prihandono. Seni adalah hidupnya. Banyak hal
yang ia lakukan, di manapun ia berada, pastilah meninggalkan suatu karya berupa
seni.
Ia
memiliki ketertarikan terhadap gitar. Sejak duduk di bangku SMP, Yunus mulai
belajar memetik gitar dengan tetangganya, Pak Tomo. Adapun genre musik yang ia gemari adalah musik rock.
Yunus terus
mengasah kemampuannya dalam bermain gitar dan selalu aktif di band sekolah.
Salah satu prestasinya saat ia masih pemula adalah menjadi pengisi acara
pameran pendidikan di SMP Kanisius. Pengalaman itu menjadi motivasi untuk terus
berkarya di bidang musik.
Ksatria
bergitar ini suka bernyanyi. Saat SMA, ia aktif dalam ekstrakurikuler paduan
suara bernama “Sancfortius” yang merupakan singkatan dari Sanctus Fortus of
Bunda Hati Kudus. Ia masuk sebagai seorang tenor atau suara III, yang artinya
pria yang bernyanyi dengan nada tinggi. Banyak prestasi yang ia toreh bersama
Sancfortius melalui lomba-lomba paduan suara. Selain mengikuti lomba paduan
suara, Sancfortius juga aktif dalam pelayanan di Gereja St. Kristoforus,
Grogol, untuk bernyanyi saat ibadah.
Pemuda
dengan tinggi 173 cm ini juga sempat dipercaya untuk menjadi gerong, yakni
penyanyi yang diiringi alat musik gamelan untuk beberapa acara, seperti lomba
dan festival budaya. Kegiatan lain yang ia ikuti untuk menyalurkan minat dan
bakatnya adalah aktif dalam Kelompok Rohani sebagai tim worship yang
menyanyikan puji-pujian.
Drama
merupakan bagian tak terpisahkan dari hidup manusia. Drama adalah seni, dan
Yunus tak dapat terpisahkan dari seni itu sendiri. Beberapa kali Yunus menjadi
pemeran utama untuk pentas seni teater saat SMA, seperti teater yang berjudul
"Demi Cinta" dan "Adrian". Apabila tidak ikut berperan
dalam pentas, Yunus aktif menjadi pemusik yang mengiringi teater itu. Sampai lulus
SMA, Yunus tidak berhenti berkarya. Itu semua hanyalah awal untuk menjadi lebih
baik walau sehebat apapun rintangan yang harus ia lalui.
Hal yang terpenting adalah keyakinan dan ketekunan. Setiap hari, putra sulung
dari 2 bersaudara ini harus menempuh perjalanan yang cukup jauh demi menuntut
ilmu. Dari TK sampai SMA, ia bersekolah di Bunda Hati Kudus, Grogol. Dengan
sepeda motor yang setia menemaninya sejak SMA, kini hampir setiap hari Yunus
melaju ke Universitas Bunda Mulia (UBM) yang terletak di daerah Jakarta Utara.
Jarak tak mengurungkan tekadnya demi mencapai mimpinya menjadi seorang
sutradara. Untuk itu, ia mengambil jurusan Ilmu Komunikasi peminatan broadcasting.
Tiada hari tanpa berpikir tentang hari esok yang akan dijalani. Di UBM, Yunus
memiliki keluarga kedua tempat ia bertukar pikiran, yaitu sebuah UKM yang
bernama The VOU (The Voice of UBM). Yunus membicarakan banyak hal yang ada
dalam benaknya tentang program kerja The VOU ke depannya bersama keluarga
keduanya itu untuk terus berkarya dalam seni.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar