Senin, 28 September 2015

Perbaikan Feature dari Donna Alvita Ellora


Yunus dan Seni
     Yunus, itulah panggilan pemuda kelahiran 17 Januari 1996. Nama lengkapnya adalah Yunus Prihandono. Seni adalah hidupnya. Banyak hal yang ia lakukan, di manapun ia berada, pastilah meninggalkan suatu karya berupa seni.

     Ia memiliki ketertarikan terhadap gitar. Sejak duduk di bangku SMP, Yunus mulai belajar memetik gitar dengan tetangganya, Pak Tomo. Adapun genre musik yang ia gemari adalah musik rock.

      Yunus terus mengasah kemampuannya dalam bermain gitar dan selalu aktif di band sekolah. Salah satu prestasinya saat ia masih pemula adalah menjadi pengisi acara pameran pendidikan di SMP Kanisius. Pengalaman itu menjadi motivasi untuk terus berkarya di bidang musik. 

     Ksatria bergitar ini suka bernyanyi. Saat SMA, ia aktif dalam ekstrakurikuler paduan suara bernama “Sancfortius” yang merupakan singkatan dari Sanctus Fortus of Bunda Hati Kudus. Ia masuk sebagai seorang tenor atau suara III, yang artinya pria yang bernyanyi dengan nada tinggi. Banyak prestasi yang ia toreh bersama Sancfortius melalui lomba-lomba paduan suara. Selain mengikuti lomba paduan suara, Sancfortius juga aktif dalam pelayanan di Gereja St. Kristoforus, Grogol, untuk bernyanyi saat ibadah. 

     Pemuda dengan tinggi 173 cm ini juga sempat dipercaya untuk menjadi gerong, yakni penyanyi yang diiringi alat musik gamelan untuk beberapa acara, seperti lomba dan festival budaya. Kegiatan lain yang ia ikuti untuk menyalurkan minat dan bakatnya adalah aktif dalam Kelompok Rohani sebagai tim worship yang menyanyikan puji-pujian. 

     Drama merupakan bagian tak terpisahkan dari hidup manusia. Drama adalah seni, dan Yunus tak dapat terpisahkan dari seni itu sendiri. Beberapa kali Yunus menjadi pemeran utama untuk pentas seni teater saat SMA, seperti teater yang berjudul "Demi Cinta" dan "Adrian". Apabila tidak ikut berperan dalam pentas, Yunus aktif menjadi pemusik yang mengiringi teater itu. Sampai lulus SMA, Yunus tidak berhenti berkarya. Itu semua hanyalah awal untuk menjadi lebih baik walau sehebat apapun rintangan yang harus ia lalui.

     Hal yang terpenting adalah keyakinan dan ketekunan. Setiap hari, putra sulung dari 2 bersaudara ini harus menempuh perjalanan yang cukup jauh demi menuntut ilmu. Dari TK sampai SMA, ia bersekolah di Bunda Hati Kudus, Grogol. Dengan sepeda motor yang setia menemaninya sejak SMA, kini hampir setiap hari Yunus melaju ke Universitas Bunda Mulia (UBM) yang terletak di daerah Jakarta Utara. Jarak tak mengurungkan tekadnya demi mencapai mimpinya menjadi seorang sutradara. Untuk itu, ia mengambil jurusan Ilmu Komunikasi peminatan broadcasting.

     Tiada hari tanpa berpikir tentang hari esok yang akan dijalani. Di UBM, Yunus memiliki keluarga kedua tempat ia bertukar pikiran, yaitu sebuah UKM yang bernama The VOU (The Voice of UBM). Yunus membicarakan banyak hal yang ada dalam benaknya tentang program kerja The VOU ke depannya bersama keluarga keduanya itu untuk terus berkarya dalam seni.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar