Gunung Gede
Hai semua.Gw Yunus anggota Cinta
Bangsa dan Tanah Air SMA BHK GROGOL. Gw mw
cerita sedikit pengalaman gw brsama temen – temen, senior dan Pembina
kami. Ada beberapa senior yang ikut sekaligus jadi guide kami, yaitu kak Aldo,
WP, Ari, dan Veni. Semuanya dari Expala.Pembina kami ada ibu Didit dan bpk
Agus.Dan kami anggota CBTA yang ikut ada 13 orang dari sie, Expala, PMR,
Paskibra, dan Pramuka.Kami semua berangkat pada hari jumat siang.
Kami mulai packing dari jam 8 pagi. Kami semua, laki-laki dan
perempuan, semuanya membawa tas carrier yang isinya peralatan-peralatan makan
dan kemah beserta makanan, obat-obatan dan pakaian. Biar terasa seperti petualang
sejati, kami tidak menyewa bus dan tidak memakai porter. Lalu jam 11 kami
berangkat dari sekolah naik bus PATAS 02 menuju terminal Kampung Rambutan. Lalu
kami naik angkot lagi dari Kampung Rambutan menuju ke pertigaan sebelum
Cibodas.Lalu kami naik angkot berwarna kuning dengan menawar harga 4 ribu per
orang ke tempat penginapan “mang Idi”.Mungkin kalian tau tempat itu.Karena udah
sore kami memutuskan untuk menginap di situ.Waawww, keren.Lalu kami makan
disitu dan ngobrol-ngobrol sampe malem.


Lalu kami tidur.Gilak, rame banget tuh tempat penginapan.
Lalu jam 3 pagi, kakak-kakak senior sampai dan kami mulai beres-beres dan
bersiap untuk naik gunung. Ini bagian paling seru!!! Kami berjalan pagi-pagi buta
dengan penuh semangat.Yaa, tau laahh tingkah-tingkah bocah norak yang baru
pertama kali ngerasain naik gunung.Wkwkkwwk. Di jalan kami foto-foto.Yaaa, gak
begitu penting sih foto-foto nyaa, namanya juga lagi norak. Wkwkwk. Gw gak tau
kenapa ya, gw bisa ngerasa seneng banget buat naik gunung ini. Kami naik lewat
jalur Cibodas, karena jalur Putri sedang di tutup.Dan bagi kalian yg tau, jalur
nya itu buseeettt, panjang banget.Matahari mulai terbit.Kami berjaln menuju ke
air terjun Cibereum.Lu pasti tau, itu keren abizz pemandangannya. Kita tetap
beralay-alay ria foto-foto. Dari jalur ini kami bisa liat gunung Gede terlihat
dekat dan gw udah gak sabar buat nyampe di puncak itu.

Yaa, kalian pasti tau laahh kondisi fisik anak-anak SMA sekarang,
beberapa anak mulai lama jalannya karena ada yang sakit kakinya. Banyak yang
gengsi bilang kalo udah cape dan butuh bantuan.Yaa, namanya jg anak SMA.
Wkwkwk. Tapi lama kelamaan udah mulai banyak suara-suara keluhan-keluhan yang
membuat beberapa orang termasuk gw juga kesal ngedengerin keluhan-keluhan itu.
Dari yang awalnya jalannya berbarengan, lama kelamaan sudah mulai
terputus-putus jaraknya.Gw sudah mencoba menunggu orang-orang yang jalannya
super lelet padahal udah di bantuin juga. Udah cukup lama juga kami jalan dan
akhirnya kaki gw pun juga udah mulai mengeluarkan tanda-tanda keram, tapi 1
yang biking gw gk mau nyerah karena gw ngeliat seorang ibu Didit yang umurnya
udah setengah abad dengan membawa tas tanpa gw melihat dia kelelahan. Akhirnya
sampe di Sumber Air Panas. Gilaakk, gw baru pertama kali ngeliat pemandangan
seperti ini. Suer demi apapun keren banget. Dan sialnya gw terpeleset. Untung
kamera yang gw pegang gak jatoh. Masalahnya itu kamera bukan punya gw.Ckckck.
Akhirnya sampe di Kandang Batu.
Disitu kaki gw mulai keram dan sambil nunggu yang lain, gw istirahat sama
Alodia. Lalu kami melanjutkan perjalanan lagi. Dan telapak kaki gw ngilu banget
karena jalurnya full batu. Gw pun mulai bertanya-tanya, kapan sih kita sampe ke
puncak. Gw mulai liatin tingginya pohon-pohon. Katanya sih kalo semakin pendek
pohonnya semakin deket sama puncak. Tapi harapan gw pupus gara-gara ngeliat
pohonnya masih tinggi. Gw baru sadar kalo orang-orang pendaki itu punya sopan
yang tinggi dan ramah banget. Disini gw juga belajar sopan dan ramah dari
mereka sepanjang perjalanan. Seru abis. Lama kelamaan emosi gw mulai naik
karena lelah dan sebel sama temen-temen gw yang jalannya lelet karena gw gak
sabar pengen nyampe puncak. Disini mental dan fisikpun diuji oleh alam.
Akhirnya kami semua sampe di Kandang Badak, Anehnya gw tidak melihat badak sama
sekali. Kira-kira kita semua sampe disitu jam 12-01 siang. Lalu kita isi air di
situ untuk masak dan minum.Kami makan indomie disitu dan istirahat.
Denger-denger sih kalo udah sampe Kandang Badak, berarti udah deket sama
puncak. Gw pun berharap begitu juga.


Lalu kami melanjutkan perjalanan.Ada
2 jalur disitu, jalur Pangrango dan jalur Gede.Lalu kami mengambil jalur
Gede.Beruntunglah kami sudah mengisi tenaga, karena jalur yang kita hadapi
semakin sulit. Lalu teman kami Dainty, ashma nya kambuh. Tapi ternyata dia
masih tetap bisa lanjut.Gw mendengar ada jalur yang unik. Namanya “Tanjakan
Setan”. Gw jg penasaran kenapa namanya begitu. Dan sesampainya disitu, gw tau
kenapa namanya begitu. Gilaaakkk!! Gw harus rock climbing dengan kemiringan
sekitar 85derajat dengan seutas tali. Ini pengalamn pertama gw. Sebenernya ada
jalur alternative nya sih. Tapi gw, paticia, petrus, kak Aldo dan kak WP lewat
Tanjakan Setan. Kak Aldo udah sampe di atas duluan. Lalu kak WP, Petrus, gw,
baru Patricia. Gilaakk.Di tengah tanjakan, kami semua panik.Tali yang di pegang
kak WP putus.Untung ada besi dan petrus yang menahan kak WP. Dan lu tau. Kami
rock climbing tanpa tali dengan membawa kerier yg beratnya sekitar 10kg lebih.
Sumpah, gw takut mati. Wkwkwkwk. Akhirnya kami nyampe di jalur berikutnya dan
kami istirahat sebentar sambil nunggu yang lain yang lewat jalur alternative.


Gw udah mulai berharap jalurnya
semakin dekat dengan puncak karena batu-batunya mulai berkapur dan tumbuhannya
tidak setinggi yang sebelumnya. Oowwhh maann, ini PHP banget. Gak nyampe-nyampe
cuuyy!! Disini kami harus pegangan pohon untuk nanjak, karena jaraknya
tinggi-tinggi. Suer, gw kesel banget gak nyampe-nyampe, ada kali gw istirahat
20x. Di PHP’in banget, katanya orang-orang yang lagi turun gunung sih tinggal
sedikit lagi. Dan akhirnya gw, patricia, dan petrus mulai semangat lagi, kami
udah bisa melihat sedikit cahaya langit yang menandakan kami hampir dekat
puncak. Woooooww.Akhirnya kami melihat teman-teman kami yang sedang menunggu
kami.Dan gilaakk.Pemandangannya gilaak banget. Tabiat alay kamipun muncul lagi.
Kami foto-foto lagi.Waaww.Gw, petrus, dan davin beli kopi panas, baru 1 menit
kami beli, langsung dingin. Apa-apaan niihh.Kami ditipu sepertinya.Wkwkwk.
Kami
disitu sekitar jam setengah 5 sore, dan kami harus berjalan lagi menuju puncak
tertinggi gunung Gede. Dan waktu kami berjalan naik.Owh my GOD. Suuerr, gw bisa
nyebutin itu berkali-kali. Gw bisa melihat sunset. Gw bisa melihat puncak
Pangrango diseberang di bawahnya ada kabut awan dan matahari tenggelam dibawah.
Semua kesal, capek dan sakit rasanya terbayar melihat ini. Suuueerrrr.


Haripun mulai menuju gelap dan kami
harus turun keSurya Kencana untuk mendirikan kemah. Surya kencana adalah padang
rumput yang luaaasss bangeett. Kereen banget. Jam 7 malam gw baru sampe dan gw
brsama beberapa orang yang udah sampe langsung bikin tenda secepatnya. Sueerr,
disitu dingiiinn buuaangeett.Gimana enggak?Gw minum susu jahe baru mendidih
langsung dari misting tapi gak ada panas-panasnya. Gilaakk. Disitu gw bisa
melihat taburan bintang dilangit dan gw bisa melihat bintang jatuh. Sayangnya
gk bisa gw foto.
Pagi-pagi kami bangun, dan kalian
tau?Woooww, tenda dan tas kami diselimuti butiran es. Woow. Baru kali ini gw
ngeliat kejadian kaya gini. Ckckck. Lalu kami membuat kopi, teh dan spageti
untuk sarapan.Setelah itu kami beres-beres dan foto dengan bendera Merah Putih
dan bendera CBTA.Lalu kami naik ke puncak lagi.Disana kami foto-foto sambil
menunggu teman kami Jovita dan Dainty. Sekitar 1 jam kami menunggu tapi mereka
tidak muncul. Karena terlalu lama seniorpun mencari mereka dan kami turun
duluan.Dan menunggu di puncak bawah.Lalu merekapun datang dan saya tidak tau dengan
jelas ibu Didit marah pada mereka berdua dan suasana mulai menegang.Akhirnya
kami melanjutkan penurunan.Selama penurunan sepertinya suasana semakin tidak
bersahabat.Sepertinya kami semakin diuji fisik dan mental. Banyak dari kami
yang semakin lelah dan emosi semakin meningkat, banyak yang semakin saling
kesal satu sama lain. Gilak. Sekarang gw percaya, mental di gunung benar-benar
keras. Mungkin bisa sampe golok-golokan kali kalo gak bener-bener sabar.Ckckck.
Lalu di antara kami sudah mulai banyak yang kelelahan.Banyak yang sudah
berjatuhan saat menuruni gunung.Lalu teman kami tidak sengaja tertinggal yaitu
Putri, lalu kami tidak tau kalo dia jatuh dan keseleo, lalu ada penurun gunung
juga yang memberi tau kalau teman kami ada yang keseleo, dan gendi menolong
putri dan mencari bantuan pada bu Didit.Lalu kami membawa barang bawaan
putri.Kamipun disuruh untuh berjalan duluan dan Putri jaga oleh Bu Didit, pak
Agus dan Davin.Kamipun tidak diperbolehkan makan atau istirahat.Kami pun
berjalan terpisah-pisah dan keegoisan kami mulai muncul.

Kami sudah sangat lelah dan sakit,
kami juga sangat lapar.Hujanpun mengguyur kami. Jalanan semakin licin dan bikin
gw jatuh terpeleset. Punggung gw juga sakit banget karena tas kerier yang gw bawa.
Dan sekitar jam 7 malam kami sampai di pintu masuk dan istirahat. Kamipun minum
obat dan berteduh sambil menunggu Putri, bu Didit, pak Agus dan Davin. Lalu
kami mencharter angkot kuning ke depan pertigaan. Bisa kalian
bayangkan.Limabelas orang termasuk kerier-kerier kami masuk kedalam angkot yang
sangat sesak. Akhirnya gw, petrus, Davin dan pak Agus menggandul di pintu
angkot dan melawan derasnya hujan. Waaww.
Dari
pengalaman ini, gw pribadi punya penilaian-penilaian tersendiri terhadap acara
ini. Kami membuat acara ini bukan hanya untuk bersenang-senang. Dalam
perjalanan ini kami bisa belajar bahwa untuk mencapai tujuan kita, kita akan
menghadapi jalan yang begitu sulit, panjang, curam, terjal, berbatu yang dapat
membuat kita putus asa, jatuh, dan kesal. Kita juga harus lelah dengan beban
yang kita pikul dari kita memulai sampai pada akhir kita kembali. Kalau kalian
yang membaca ini dari awal, pasti kalian merasa kesal akan ke egoisan kami pada
saat perjalanan. Tapi, biarkan kami belajar dari pengalaman ini agar kami
menjadi orang yang lebih dewasa untuk menghadapi masalah-masalah yang kami
alami.Kami harus melawan rasa takut, dan melawan keterbatasan kami untuk
mencapai tujuan kami. Dan apa yang kami lakukan semata-mata hanya untuk belajar
dan memaknai setiap langkah kami. Kelihatannya tidak penting, tapi inilah cara
kami.“Beban bukan untuk dikeluhkan, tapi untuk dijalani.Jika beban dilihat
sebagai penderitaan maka hidup tidak akan ada maknanya.”
